Bank Sampah Pun Bisa Punya Rumah Baca


Bekerjasama dengan Posko Bank Sampah Guessa (Gerakan Untuk Efisiensi Sisa Sampah) , pada Minggu 7 Juni 2015 Bookstart Indonesia menggelar bookgifting di Dusun Sidorukun, Desa Gucialit, Kec. Gucialit, Kab. Lumajang. Sebanyak 25 orang ibu-ibu bersama balitanya, datang memenuhi undangan pegiat Guessa. Hari itu Guessa punya acara untuk menandai lahirnya taman baca baru, sekaligus bookgifting dari Bookstart Indonesia.

Anak-anak Guessa bahagia menerima kado paket buku dan punya rumah baca

Anak-anak Guessa bahagia menerima kado paket buku dan punya rumah baca

Pukul 09:00, acara dibuka oleh Widhi, selaku salah satu pegiat Guessa, dan inisiator Taman Baca Guessa. Setelah itu, dilanjutkan sambutan oleh tokoh masyarakat, yakni dokter Ima Rifianti. Dalam sambutannya, dokter Ima menghimbau masyarakat agar bisa memanfaatkan keberadaan Taman Baca Guessa. Para ibu diajak untuk sering-sering membacakan buku cerita kepada anak. Kemudian, acara dilanjutkan dengan pemaparan tentang gerakan penanaman cinta baca dan cinta ilmu oleh Fauzi, Direktur Eksekutif Bookstart Indonesia.

Pada kesempatan ini, Bookstart Indonesia membagikan 25 paket Booktime (paket dari TB Mahanani – Kediri) kepada para ibu yang hadir. Sementara para ibu berforum, anak-anak diajak mewarnai bersama. Ditemani oleh para pegiat Guessa, anak-anak menghabiskan waktu bermain. Ketika tiba waktunya, anak-anak diajak masuk ke forum untuk mendapatkan “kado” dari masing-masing ibunya. Raut wajah mereka tampak bahagia. Mungkin saja baru kali ini mereka mendapat kado berupa buku cerita.

Sambutan Pegiat TB Guessa (Widhi) 1

Widhi memberi sambutan

Bookgifting Simbolis 1

Penyerahan secara simbolis oleh Direktur Bookstart Indonesia, Fauzi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kemudian, Wenda relawan sahabat Bookstart Indonesia mendemonstrasikan teknik membacakan buku cerita kepada anak-anak. Dengan ceria, Wenda menyapa anak-anak dan menyalakan antusiasme mereka. Tak pelak, 25 anak pun hanyut dalam suasana cerita. Mereka serius menyimak cerita Wenda. Tampak para ibu menyaksikan adegan itu dengan takjub. Setelahnya, para ibu diminta untuk mencoba memraktekkannya. Ada yang sebagian tampak malu-malu dan kaku, namun tak lama kemudian cair dan larut dalam keasyikan bercerita.

Kreativitas para ibu tak diragukan lagi, beberapa dari mereka ada yang membacakan buku dengan bahasa jawa. Mereka berharap dengan bercerita menggunakan bahasa ibu, anak-anak lebih mengerti. Tiap ibu memangku anaknya, dan lembar demi lembar buku dibuka dan dibacakan. Setelah itu, para ibu dan anak dimintai pesan kesan. Mereka bahagia, gembira, dan menyatakan komitmen untuk membiasakan membacakan buku kepada anak-anaknya.

Demikian, sekilas reportase acara Bookgifting dan Launching Taman Baca Guessa, di Gucialit Lumajang. Terima kasih dihaturkan kepada TB Mahanani, YPPI, Booktime, dan The Asia Foundation. Serta terima kasih kepada para pegiat Posko Bank Sampah Guessa, dan masyarakat Desa Gucialit. Sejak hari itu, Guessa tidak lagi hanya menjadi posko bank sampah, tapi juga menyediakan menu taman baca, yang bisa diakses masyarakat sekitar secara gratis.

Workshop2 1

Ibu-ibu takjub melihat antusiasme anaknya dibacakan buku

Workshop1 1

Anak-anak penasaran dengan cerita yang dibacakan

Workshop3 1

Ibu-ibu di Posko Guessa langsung praktek membacakan buku untuk anaknya

Mengembangkan gerakan membacakan buku pada anak balita tidak selalu harus memerlukan gedung atau hotel mewah untuk menggelar seminar atau penyuluhan. Bookstart Indonesia membuktikan hal itu dengan membuka diri bergandeng tangan dengan pihak manapun yang terpanggil untuk menyiapkan generasi masa depan bangsa yang cinta baca dan cinta ilmu. Booksart Indonesia telah bekerjasama dengan pendamping desa, posyandu, pemerintah desa, TK, musholla, rumah baca, perpustakaan daerah ataupun, seperti kali ini, posko bank sampah.