Bookgifting di Pasuruan


Setiap pukul 08.00, PAUD Al-Wardah pasti sudah ramai dengan anak-anak yang akan memulai hari mereka untuk bermain dan belajar. Tak terkecuali hari itu, Senin, 2 Juni 2014. Tapi ada hal berbeda di PAUD yang beralamat di Jl.Troguno Kelurahan Kejayan, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, hari itu. Bookstart Indonesia bekerjasama dengan PAUD tersebut akan menyelenggarakan bookgifting. Sebuah acara pembagian buku secara cuma-cuma untuk anak-anak didik di PAUD tersebut. Bookgifting ini merupakan rangkaian acara perdana dari Bookstart Indonesia yang digelar di empat kota, Gresik, Pasuruan, Bogor, dan Ngawi.

Pada acara pagi itu, Bookstart Indonesia melalui sekolah mengundang 35 orang tua siswa untuk ikut hadir. Sebelum acara utama dibuka, anak-anak melakukan rutinitas pagi, mengaji dan berdoa. Tepat pukul 08.30 acara dibuka dengan perkenalan, dengan pemaparan sekilas lembaga Bookstart Indonesia oleh Anita Puspitasari selaku wakil Bookstart Indonesia. Pada kesempatan tersebut, Anita juga menjelaskan tentang bookgifting dan tujuan kegiatan tersebut. Tak lupa Anita menerangkan manfaat membaca, antara lain membantu perkembangan kognisi, serta kemampuan bicara dan bahasa pada anak.

5.jpg 3.jpg 8.jpg

Acara berlanjut dengan pembagian leaflet bookgifting kepada wali murid, sekaligus simulasi storytelling buku yang akan dibagikan. Pada kesempatan ini Vivi Wijayanti selaku penyaji memberikan contoh bagaimana orang tua dan anak berinteraksi dengan buku tersebut. Buku yang dibagikan Bookstart Indonesia kali ini adalah buku seri kecerdasan visual, dengan lembar-lembar buku bergambar tanpa teks. “Ini memberikan kebebasan pada anak untuk membaca gambar sesuai dengan imajinasi mereka,” ujar Vivi. “Setelah anak puas berimajinasi, orang tua bisa membantu membacakan teks yang ada di bagian tengah buku, sekaligus memandu sang anak untuk memilih dan mencocokkan teks dengan gambar yang tersedia,” lanjutnya.

12.jpg 10.jpg 1.jpg 13.jpg

“Gatal di Perut Hiyo” lantang suara Vivi membua acara storytelling. Satu persatu anak mendekat untuk menyimak. “Siapa nama ikan yang menggaruk gatal di perut Hiyo?”, tanya Vivi memancing antusias anak-anak. “Moooooo….”, lanjutnya mengarahkan anak-anak untuk menjawab. Tiba-tiba salah satu siswa berseru, “monyeeeeet”. Kontan seisi kelas langsung tertawa, karena jawaban seharusnya adalah Mora. Kejadian itu semakin menghangatkan suasana storytelling, hingga anak-anak semakin antusias menyimak cerita.

16.jpg Hari beranjak siang, dan mataharipun makin menyengat. Acara berlanjut dengan simulasi storytelling oleh orang tua kepada anak mereka masing-masing. Pada awalnya, anak-anak enggan untuk mendengarkan cerita, dan sibuk dengan mainan masing-masing. Mereka mulai tertarik saat guru memberitahukan bahwa buku yang akan dibacakan oleh orang tua mereka bisa dibawa pulang secara cuma-cuma. Satu persatu anak menghampiri orang tua masing-masing dan antusias menyimak cerita. Selain membaca buku cerita yang diperoleh, anak-anak juga tukar menukar buku dengan teman, yang memperoleh buku dengan judul berbeda. Anita Puspitasari menutup acara siang itu dengan doa bersama. (PV)