Bookgifting di Ngawi


Rangkaian acara bookgifting perdana yang diselenggarakan Bookstart Indonesia terus bergulir. Kabupaten Ngawi menjadi lokasi ke 4 persinggahan Bookstart Indonesia untuk bookgifting perdana ini. PAUD Ash-Shirot, Dusun Pingit, Desa Banjarbanggi, Kecamatan Pitu, di Kabupaten paling barat Provinsi Jawa Timur ini, terpilih menjadi tempat pelaksanaan acara tersebut. Minggu, 8 Juni 2014, celoteh dan gelak canda siswa-siswi PAUD Ash Shirot bersama orang tua mereka memecah keheningan desa kecil itu.

jalan desa.jpgsederhana.jpg

Seluruh siswa siswi PAUD Ash Shirot yang berjumlah 15 anak hadir dalam acara itu, bersama dengan sebagian orang tua siswa. Pelaksanaan bookgifting yang bertepatan dengan masa panen padi menyebabkan hanya 7 orang tua murid yang bisa hadir karena sebagian yang lain harus bekerja. Sebagai informasi tambahan, mayoritas masyarakat di Dusun Pingit adalah petani atau buruh tani di mana PAUD Ash-Shirot mewadahi para anak dari keluarga yang kurang mampu. Komunitas terdeprivasi memang menjadi fokus dan prioritas program bookgifting Bookstart Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, pengurus PAUD Ash-Shirot juga mengundang Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan Kecamatan Pitu.

Sama dengan tempat-tempat sebelumnya, bookgifting di Ngawi ini selain membagikan buku gratis untuk balita juga menggelar sesi storytelling dan sharing tentang manfaat membacakan buku bagi anak-anak. Pukul 09.00 acara dibuka dengan sambutan perwakilan dari Sekolah PAUD Ash Shirot, sekaligus wakil dari Bookstart Indonesia, Roni Dwi Peri S, A.Md. dalam sambutan tersebut, Roni menyampaikan maksud dan tujuan bookgifting, kepada orang tua murid. Selanjutnya, giliran Hampuni, S.Pd, menyampaikan sambutan mewakili UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Pitu. “Kegiatan semacam ini baru pertama kali dilaksanakan di Kabupaten Ngawi, semoga bookgifting ini bisa digelar di seluruh PAUD di Kabupaten Ngawi, paling tidak di Kecamatan Pitu.”, imbuhnya.

senang dengan buku baru.jpg orang tua murid.jpg Anak baca buku.jpg

Pada sesi sharing orang tua murid yang kebetulan semuanya ibu, terungkap bahwa selama ini mereka tidak biasa menemani anaknya belajar di rumah apalagi membacakan buku cerita. Anak-anak di dusun yang jauhnya 23 Km dari pusat kabupaten itu, terbiasa hanya belajar di sekolah. Selain kesibukan orang tua bekerja di sawah, sebagian orang tua tidak bisa membaca, alasan ini lah yang menyebabkan para orang tua tidak terbiasa menemani anak-anak mereka belajar. Pihak Bookstart Indonesia sudah mempersiapkan buku yang sesuai untuk mengakomodasi kondisi di lokasi. Seri buku cerita tanpa kata-kata, dianggap tepat karena balita bebas berimajinasi dan bercerita sesuai dengan gambar yang mereka lihat.

Anak-anak menunjukkan bukunya.jpg Sambutan guru-guru.jpg

Satu buku untuk satu anak, dibagikan setelah sesi sharing. Roni, memberikan sedikit ulasan model buku yang dibagikan. Selanjutnya, anak-anak bercerita semampu mereka, didampingi orang tua masing-masing. Anak yang datang tanpa kehadiran orang tua didampingi guru mereka, Herli Mulyani dan Siti Rohkana Ningsih. Antusiasme anak-anak terlihat dari usaha mereka menceritakan isi buku itu sebisa mereka. Pada akhir acara, para orang tua mengusulkan kegiatan storytelling ini bisa diadakan sebulan sekali. Semoga Bookstart Indonesia bisa terus berbagi buku untuk anak-anak, dan mengajak mereka membaca serta mencintai buku. Salam dari Ngawi. (IUD)