Dasar Pemikiran


Laman ini akan menjelaskan dasar pemikiran gerakan cinta buku sejak balita yang dimotori oleh Bookstart Indonesia. Tulisan akan dibagi dalam empat bagian yang menjawab pertanyaan-pertanyaan penting mengapa gerakan ini diperlukan oleh Indonesia.

Kita semua tahu dan sepakat bahwa membaca itu baik. Pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia di mana membaca adalah kunci akses terhadap jendela tersebut. Membaca bisa memperluas cakrawala pengetahuan, memberikan inspirasi atau solusi bahkan membuka banyak peluang baru. Kemampuan baca adalah syarat mutlak komunikasi moderen serta akses terhadap ilmu dan pengetahuan moderen.

Terlebih lagi di masa depan, perekonomian akan semakin bergerak menuju ekonomi berdasar pengetahuan (knowledge economi) yang tentu saja memerlukan kemampuan pemahaman baca yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, tentu saja cinta baca dan cinta ilmu akan sangat banyak memberikan manfaat. Pemikiran tersebut telah banyak dibuktikan oleh berbagai penelitian yang membuktikan bahwa kebiasaan membaca dan cinta baca sejak masa muda dapat memberikan manfaat yang besar bagi hidup seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) bahkan menyimpulkan bahwa kegemaran membaca adalah indikator paling penting kesuksesan masa depan seorang anak (Sumber) karena memberikan peluang lebih besar untuk social mobility (fleksibilitas pergaulan dan pilihan bidang pekerjaan) sang anak (Referensi).

Begitu pula kesimpulan penelitian longitudinal di Oxford University terhadap 17.000 anak-anak kelahiran tahun 1970 yang menyimpulkan bahwa kebiasaan membaca di usia belia berkorelasi memberikan kesempatan kerja yang lebih baik (Referensi). Menariknya, di penelitian di atas terdapat perbedaan antara membaca karena kebutuhan (misal untuk mengerjakan tugas sekolah) dengan membaca untuk kesenangan (cinta baca). Mereka yang membaca karena gemar membaca terbukti lebih memiliki social mobility di kemudian hari dan ini sangat berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang di dalam hidupnya.

Tahun-tahun pertama seorang anak adalah tahun-tahun yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak, baik secara fisik, intelektual maupun emosionalnya. Otak sebagai pusat kontrol tumbuh kembang serta kemampuan fisik, kecerdasan dan emosional, berkembang sangat pesat terutama di dalam tahun pertama dan ke dua sejak kelahiran. Berat otak rata-rata bayi saat lahir adalah sekitar 380 gram dan berkembang sangat pesat di tahun pertama menjadi sekitar 970 gram di usia satu tahun. Di usia 2 tahun, berat rata-rata otak sekitar 1120 gram atau sudah menjadi sekitar 80% dari berat otak orang dewasa; dan menjadi 1270 gram di tahun ke 3 (90% berat otak orang dewasa) (Referensi).

Elemen utama penentu fungsi kerja otak adalah sel saraf yakni neuron. Pada saat dilahirkan, bayi memiliki sekitar 100 miliar sel neuron (meskipun para pakar percaya bahwa neuron masih bertambah setelah kelahiran dan saat dewasa, akan tetapi jumlah total sel neuron tersebut tidak jauh dari jumlah perkiraan tersebut). Perkembangan kemampuan fisik seperti kemampuan panca indra, koordinasi gerak, kemampuan duduk, berdiri, berjalan dan berbicara (secara fisik) sebenarnya adalah perkembangan neuron menjadi sel-sel yang lebih terspesialisasi melalui proses pembentukan, penguatan dan pemutusan koneksi antar neuron yang disebut sebagai Synapse.

Dengan meresponse stimulus dari lingkungannya, pada usia 0-3 tahun terjadi pembentukan koneksi (synapse) dalam kecepatan yang paling tinggi. Para pakar percaya bahwa pada seorang batita yang sehat, bisa terjadi pembentukan 2 juta synapse per detik. Hingga mencapai usia 3 tahun terbentuk 1000 Trilliun synapse dan masih berkembang dengan kecepatan yang menakjubkan hingga di usia 5 tahun. Oleh karena itu Usia 0-3 tahun merupakan fase yang sangat penting untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik yang bisa bertahan sepanjang hidup anak (Referensi).

Dari sebuah study internasional yang dipublikasikan tahun 2010, secara rata-rata lebih dari 50% keluarga (dari sampel yang terdiri dari 73.350 keluarga dari 27 negara) hanya memiliki 25 buku atau kurang (Sumber). Bahkan di negara-negara berkembang atau miskin sebagian keluarga tidak memiliki buku sama sekali di rumahnya (misal: Cina pedesaan –25%; Bulgaria — 30%; Phipliphina — 15%). Angka keluarga dengan ketersediaan buku anak mungkin jauh memperihatinkan dari statistik tersebut.

Padahal ketersediaan buku di rumah 2 kali lipat lebih penting daripada orang tua yang berpendidikan tinggi dan jauh lebih penting daripada tempat si anak dibesarkan (misal di China ataupun Amerika Serikat) dalam menentukan tingkat keberhasilan anak di dalam pendidikan formalnya (sumber). Di dalam salah satu publikasi bookstart UK, diketahui bahwa 64% orang tua bayi berusia 7 bulan tidak pernah membacakan buku pada anaknya dan 57% sama sekali tidak memiliki buku untuk anak-anak balita di rumahnya hingga menerima paket buku Bookstart (Sumber). Bahkan di UK di mana masyarakatnya relatif maju dengan 149,800 judul buku baru setiap tahun (nomor 3 terbanyak di dunia – Sumber), 75% orang tua (termasuk yang 64% di atas) terdorong untuk semakin sering membacaan buku anaknya sebagai akibat program pemberian paket buku gratis dari Bookstart UK.

Lebih dari itu, program yang menyentuh langsung keluarga-keluarga dengan dengan balita ini, berhasil membangun tradisi baru semisal: memberikan buku sebagai kado ulang tahun anak, frekuensi membacakan buku kepada anak yang lebih sering, keanggotaan dan kunjungan di perpustakaan lokal yang meningkat tajam dan lain-lain. Bookstart Indonesia percaya bahwa program ini bisa diadaptasi dan mengulang keberhasilan yang sama di Indonesia.

Meskipun tingkat buta aksara (illiteracy rate) menurun tiap tahun (sumber), namun sayangnya menurut berbagai survey pemetaan global (PISA, PIRLS dll) ukuran rata-rata kemampuan baca (reading literacy) anak Indonesia termasuk yang paling rendah dibandingkan dengan kemampuan baca anak-anak dari Negara lain (sumber). Padahal menurut berbagai penelitian, kemampuan membaca adalah keterampilan mendasar yang sangat sentral sebagai variabel penentu kualitas hidup manusia baik sebagai individu maupun sebagai bangsa.

Berbagai studi seperti telah dijelaskan di atas telah membuktikan bahwa kualitas sumber daya manusia adalah penentu utama daya saing, kemajuan serta kemakmuran suatu bangsa di mana kemampuan baca dan kegemaran membaca memegang peranan penting. Terlebih lagi, membacakan buku cerita kepada anak-anak usia balita sebagai kegiatan sehari-hari belum terbudayakan pada masyarakat Indonesia. Tentu saja statistik mengenai jumlah buku per rumah tangga, ketersediaan buku anak di Indonesia serta kebiasaan membacakan buku bagi anak mungkin masih sangat langka di Indonesia. Akan tetapi jika di UK, yang relatif termasuk negara maju saja angkanya sedemikian mengejutkan, maka kemungkinan besar angka kesadaran orang tua untuk membacakan buku pada anaknya dan kelangkaan buku anak di rumah-rumah di Indonesia mungkin jauh lebih tinggi.

Berangkat dari kepedulian terhadap minimnya program peningkatan literacy untuk anak usia balita, serta berbagai pertimbangan yang telah diuraikan di atas, maka adopsi ide dan program bookstart yang dirintis di UK dirasa akan membawa manfaat yang besar dan signifikan buat Indonesia secara jangka panjang. Bagi Bookstart Indonesia, SDM adalah kunci kemajuan suatu bangsa di mana kemahiran dan kecintaan membaca serta kecintaan terhadap ilmu adalah kunci terbangunnya SDM yang berkualitas. Memang ini adalah program jangka panjang yang mungkin baru bisa dilihat hasilnya bertahun-tahun setelahnya, walaupun demikian ini adalah investasi strategis terhadap masa depan Indonesia. Bookstart Indonesia percaya bahwa tingkat persaingan antar bangsa ke depan akan semakin tidak mudah dan pelaksanaan program-program penanaman cinta baca sejak balita seharusnya sudah dilaksanakan sejak satu dekade yang lalu.